Senin, 18 Oktober 2021

Bagaimana The Shawshank Redemption bisa menjadi film terbaik IMDb selama bertahun-tahun?

Apa film terbaik yang pernah dibuat? Ya itu pertanyaan yang sangat subjektif, atau kita terkadang mengategorikan film menjadi dua, kalau bukan yang terbaik, ya terfavorit. Dan ujungnya tetap sama, semua orang punya film terbaik atau terfavorit mereka masing-masing. Tetapi salah satu sumber informasi film terbesar di dunia yakni Internet Movie Database atau IMDb mencantumkan satu judul film yang telah bertahun-tahun berada di puncak film terbaik. Dan ia adalah The Shawshank Redemption.

Sudah 27 tahun semenjak film terbaik IMDb itu rilis di layar lebar. Ketika pertama kali rilis, gua rasa tidak ada seorang pun yang berpikiran untuk menjadikan film ini menjadi film terbaik pilihan mereka apalagi film terbaik sepanjang masa. Ya, Shawshank Redemption adalah adaptasi dari cerita pendek karya Stephen King yakni “Rita Hayworth and the Shawshank Redemption,”. Lebih lanjut berkisah tentang Bankir yang didakwa membunuh istri dan selingkuhannya dan dihukum penjara seumur hidup.

The Shawshank Redemption adalah sebuah film di mana pemerannya kebanyakan diisi laki-laki. Tokoh utamanya sendiri diperankan oleh Tim Robbins dan Morgan Freeman yang kala itu namanya belum sepopuler sekarang. The Shawshank Redemption adalah film pertamanya Frank Darabont di mana diproduksi oleh studio tingkat menengah, Castle Rock yang kala itu menerima sial karena filmnya harus bertempur langsung dengan Pulp Fiction garapan Quentin Tarantino yang melegenda dan langsung digemari. Hal itu lah yang kemudian membuat The Shawshank Redemption hanya meraih 16 juta dolar dari 25 juta dolar biaya produksi. Ya untuk box office, The Shawshank Redemption memang melempem.

Tapi sesuai judulnya yakni Redemption atau penebusan, film itu perlahan namun pasti mulai menapaki jalannya menuju kepopuleran. Meskipun performanya kurang gemilang dalam box office, namun The Shawshank Redemption meraih 7 nominasi Academy Award termasuk nominasi Best Picture. Walau sayangnya, posisi yang terbaik jatuh ke tangan Forrest Gump namun posisinya kala itu sudah cukup besar. Dan kebangkitan yang sebenarnya pun dimulai segera setelah itu.

Pada tahun 2019, mungkin sulit membayangkan ada film dengan tema perjalanan hidup seorang narapidana di penjara akan mendapatkan reaksi box-office terlepas apakah film tersebut masuk dalam nominasi oscar atau tidak. Bagi Shawshank, jalan menjadi salah satu film top sepanjang masa (setidaknya menurut sejumlah warganet) terkait dengan 2 hal: penyewaan video dan penayangan di TV. Meskipun Box-Office nya lemah, namun Warner Bros selaku yang bertanggung jawab dalam distribusinya memiliki strategi untuk mencetak 300.000 salinan VHS The Shawshank Redemption dan masif menyebarkannya ke tempat-tempat rental film di Amerika, angka yang terlalu besar bagi film yang terbukti rugi di bioskop. Namun keputusan itu terbayar lunas  dengan The Shawshank Redemption menjadi VHS terlaris tahun 1995.

Dua tahun kemudian, hak siar filmnya diambil oleh TNT di mana itu bukanlah hal yang mengejutkan karena TNT kala itu dimiliki oleh Ted Turner, orang yang sama yang perusahaannya pada tahun 1993 membeli Castle Rock Entertainment, studio yang memproduksi The Shawshank Redemption. Di era sebelum streaming film menyebar luas, mungkin cara ini lah yang paling efektif untuk memperpanjang dan memperluas umur suatu film. Dan The Shawshank Redemption menjadi film paling sering diputar di TNT dan TBS pada akhir 1990-an dan awal 2000-an.

Pada 2013, menurut sebuah firma riset, menyatakan bahwa The Shawshank Redemption telah menghabiskan 150 jam waktu tayang di TNT menyamai pencapaian Scarface nya Al Pacino dan tepat di belakangnya Mrs. Doubtfire.

Mungkin elemen yang paling mengejutkan dari ketenaran lanjutan The Shawshank Redemption adalah bahwa film ini bukanlah film yang memiliki basis penggemar berat seperti penggemar #ReleaseTheSnyderCut atau para maniak Quentin Tarantino, David Fincher, dan Christopher Nolan di mana mereka yang mengagung-agungkan gaya, karakter, dan dialog yang unik dan orisinil.

Namun, jika kita kembali ke IMDb, film terbaik sepanjang masa adalah drama penjara 142 menit yang cukup suram di mana salah satu scene paling dramatis datang ketika karakter utama diam-diam membiarkan hujan membasuh kotornya, berdiri dengan pose seorang Kristus. Tentu saja, perlu dicatat bahwa IMDb Top 250 bukan penengah kualitas yang sebenarnya dan pemeringkatannya pun berdasarkan statistik yang didorong oleh peringkat pengguna.

Dan IMDb sebenarnya itu gak begitu jelas mengenai bagaimana statistik ini dibuat. Kalian mungkin pernah melihat saat Joker langsung mendapat rating 9,8 dari 10 di IMDb segera setelah pemutaran perdananya di Venice Film Festival. Namun Shawshank Redemption dengan rating 9.2 posisinya masih adem ayem di puncak dan nama Joker bahkan tidak ditemukan di top 250. IMDb menyatakan bahwa sebuah film membutuhkan 25.000 suara untuk masuk ke dalam daftar, dan daftar tersebut didasarkan pada rumus yang mencakup nilai peringkat yang diterima dari pengguna biasa yang mungkin salah satunya adalah kalian yang mendengar ocehan gua kali ini. Yang sialnya kita sendiri tidak tahu apakah kita termasuk pemilih biasa atau tidak karena IMDb merahasiakannya.

Jadi ini mungkin sedikit membingungkan ya kan? Bagaimana bisa The Shawshank Redemption mengalahkan The Dark Knight yang padahal memiliki basis penggemar yang cukup kuat dan mungkin cukup terkoordinasi untuk bisa menaikkan peringkat film favoritnya. Bahkan film terbesarnya Marvel seperti Avengers: Endgame yang adalah film dengan pendapatan terbesar di box-office hanya bisa menembus peringkat 76.

Jika kita melihat 10 besar maka kita akan mendapati fakta bahwa tidak ada film rilisan terbaru yang ada di sana, film terbaru dari top 10 hanya The Dark Knight rilisan 2008. Judul-judul lainnya mencakup The Godfather, Pulp Fiction, dan Fight Club. Berbagai film classic Amerika tidak punya harapan tentu untuk bersaing dengan top 10. Judul sebesar Citizen Kane yang menjadi film terbaik pilihannya American Film Institute saja hanya berada di posisi 93.

Pertama kali gua nonton film ini pas gua masih SMP dan respon awal gua ya mungkin karena otak gua belum tumbuh dengan benar ya film ini boring banget dan jelas gak masuk pilihan gua untuk film terbaik. Namun setelah menontonnya lagi saat SMA dan pemikiran tentang film sebagai suatu bentuk mahakarya mulai terbuka gua mulai merasakan bahwa film ini memang memiliki nilai yang bisa menempatkannya di angka teratas film terbaik. Meskipun Morgan Freeman belum menjadi aktor yang sangat dikenal kala film ini diproduksi, namun bagaimana ia membacakan narasi di The Shawshank dan bagaimana kesinambungan hingga ending nya membuat gua mengelus dada dan merasa puas diberi kesempatan Allah menonton untuk kedua kalinya.

“Menenangkan” mungkin merupakan kata yang aneh untuk menggambarkan suatu film yang bersetting di penjara, tetapi percayalah kata itulah yang paling tepat menggambarkan The Shawshank Redemption. Suatu film yang kontradiksi, adaptasi Stephen King tanpa unsur supernatural, dan dipenuhi harapan entah bagaimana bisa terus meneguhkan namanya di puncak film terbaik yang pernah dipilih IMDb selama satu dekade lebih.

The Shawshank Redemption bukanlah produk dari salah satu sutradara besar di sejarah sinema. Film ini tidak pernah memenangkan Oscar, dan bisa sangat mudah hilang setelah rilis. Namun sama seperti era streaming yang mengangkat acara dan film tertentu ke puncak ketenaran yang tidak pernah mereka capai pada awalnya, era program TV kabel memastikan bahwa Shawshank Redemption tidak akan pernah dilupakan oleh penonton. Untuk film ini, setidaknya strategi itu berhasil.

Selasa, 28 September 2021

CARA HACKER MENDAPATKAN DATA KALIAN‼️ || Who Am I dan Social Engineering

Kembali lagi gua nge rewatch film yang sudah gua tonton sejak SMA. Film yang pas dulu keren abis karena ala-ala hacker begitu jadi kesannya badass. Bukan film keluaran Hollywood tapi film dari Jerman dengan Judul Who Am I: No System is Safe. God, I LOVE THIS MOVIE. Bisa dibilang film ini yang buat gua berada di posisi gua sekarang. Ya bisa dibilang, film ini yang buat gua masuk ke jurusan gua sekarang yakni Teknik Informatika. Hahaha yahh keinginan kekanak-kanakan gua buat jadi hacker profesional, walau kayaknya gak berakhir mulus sih hahaha.

Jadi balik lagi dengan gua yang punya suara gak begitu bagus tapi mungkin bisa memberikan manfaat bagi kalian semua. Semoga kalian sehat-sehat saja, kalian baik-baik saja, dan terbebas dari virus COVID-19. Aamiin.

Di postingan ini gua bakal bahas lebih lanjut tentang kisah di film Who Am I. Tentang Benjamin Engel, seorang pria aneh yang menjadi hacker profesional untuk mendapatkan pengakuan di lingkungannya.

BAB 1 – Latar Belakang

Who Am I adalah film rilisan 2014 arahan Baran bo Odar dengan judul asli Who Am I – Kein System ist Sicher. Thanks Google Translate. Bagi kalian penggiat Netflix nama Baran bo Odar mungkin tidak asing lagi karena beliau bergantian dengan Jantje Friese adalah otak di balik megahnya series Dark. Naskah film Who Am I pun ia buat juga bersama Jantje Friese.

Seperti yang gua singgung sebelumnya, film ini berkisah tentang Benjamin Engel, seorang pria asal Berlin, Jerman yang menjadi hacker untuk mendapatkan pengakuan di lingkungannya. Sosok yang memotivasinya menjadi seorang hacker adalah sosok hacker lain bernama MRX. Saat melakukan aksinya, Benjamin pernah ketahuan dan akhirnya mendapat hukuman pelayanan masyarakat, di sana ia bertemu dengan Max. Bersama Max dan 2 teman lainnya yakni Stephan dan Paul, mereka berempat mulai membentuk organisasi hacker mereka sendiri yang mereka beri nama CLAY yakni singkatan dari “Clown Laughting At You” atau bahasa Indonesianya “Badut Menertawaimu”. Berbagai aksi hacking sudah di lakukannya, tapi rupanya hal-hal itu masih dianggap sebagai hal kecil bagi MRX dan CLAY justru dibully karena hal itu. Dititik ini, Benjamin membawa egonya sendiri yang ngefans parah dengan MRX agar MRX bisa mengakui dirinya sebagai hacker. Fanatik berlebihan ini yang kemudian akan mengarahkan Benjamin dan CLAY ke jurang yang mereka tidak pernah inginkan.

“Hacking is Like Magic”

BAB 2 - Hacker

Sebagai anak Teknik Informatika, banyak teman gua yang tanya ke gua. Kenapa Hacker melakukan hacking? Apa yang mereka dapatkan dari meretas sistem orang lain? Apakah semuanya memang tentang uang? Atau ego? Nah, sebenarnya ada banyak alasan kenapa hacker meretas web, aplikasi, atau bahkan server suatu institut. Dan ini bukanlah hal yang baru. Pada awal-awal kehadiran Internet, hacker melakukan hacking ke web atau suatu services hanya untuk membuktikan bahwa mereka dapat membobol atau bahkan merusak sistem tersebut. Jadi di awal-awal kehadirannya, hacker adalah tentang ego untuk pamer tentang kemampuan mereka.

Namun di kondisi internet yang 1GB sudah bisa didownload kurang dari 1 menit seperti sekarang ini. Label hacker bukan lagi hanya tentang ego. Sebelum gua lanjut ke alasan-alasan kenapa hacker melakukan hacking, gua ingin kasih spotline dulu kalau tidak semua hacker itu jahat. Bahwa hacker itu dapat dikategorikan menjadi 3 kategori umum.

  • Black Hat Hackers:

Black Hat Hacker terkenal dalam keandalan mereka menyusup ke jaringan dan sistem dengan membuat dan menyebarkan malware ke jaringan tersebut. Pada dasarnya, mereka adalah hacker yang jahat. Mereka umumnya termotivasi oleh keuntungan moneter tetapi pada banyak kesempatan, mereka juga melakukannya untuk bersenang-senang. Siapa pun bisa menjadi Black Hat Hackers selama mereka melakukan hacking dengan motif menyebarkan malware dan mencuri data pribadi. Nah Benjamin itu termasuk hacker kategori ini.

  •        White Hat Hackers:

Bila ada hitam pasti ada putih. Bila ada yang jahat pasti ada yang baik pula. Mereka lah White Hat Hackers. White Hat Hackers kerap di kontrak oleh suatu perusahaan atau lembaga untuk memeriksa kerentanan keamanan sistem mereka. White Hat Hacker menerapkan teknik keamanan siber yang umum dikenal seperti pengujian, penetrasi, dan menilai kerentanan menyeluruh untuk memastikan bahwa sistem keamanan suatu sistem berjalan dengan baik. Q di James Bond adalah contoh dari White Hat Hackers.

  • Gray Hat Hackers

Dan ditengah hitam dan putih ada abu-abu. Gray Hat Hacker pada umumnya meretas suatu sistem tanpa minta izin sebelumnya, dan dia akan melaporkan bagaimana mereka bisa meretas suatu sistem ke lembaga terkait. Kalau menurut Gray Hat Hackers si lembaga tidak memberikan reward sesuai dengan yang mereka anggap pantas, maka mereka akan mengancam untuk mengeksploitasi data yang mereka dapat ke publik.

Oke, karena Who Am I itu tipe hacker yang Black Hat Hackers ya kan, jadi kita bakal banyak bahas yang Black Hat Hackers di postingan ini. Black Hat Hackers memiliki banyak motif untuk melakukan tindak kejahatan. Diantaranya:

  • Make a Point

Para hacker yang termasuk dalam kategori ini sangat menarik. Mereka tidak peduli pada uang dan data, mereka memiliki tujuan hidup yang lebih tinggi. Yakni tuk menegaskan beberapa hal. Biasanya hacker dengan tujuan seperti ini hanya ingin menyebutkan pendapat mereka tentang suatu services dan menganggap services itu tidak bermoral.

  • Uang

Ini adalah alasan paling jelas tentunya. Everyone wants money. Contoh besarnya ya seperti WannaCry, Ransomware yang menyerang banyak negara itu menuntut komputer yang dia serang untuk menebus data mereka yang telah dikunci oleh WannaCry dengan memberikan mereka bitcoin dalam jumlah tertentu. Praktik lainnya juga bisa dengan meretas smartphone suatu pengguna dan memanfaatkan identitas pribasi si pengguna untuk membeli rumah, mengambil pinjaman, dll.

  • Tujuan Tertentu: Idealisme, dan Politik

Banyak hacker terdorong oleh tujuan tertentu. Terkadang mereka menjadi sosok idealis ketika ia ditangkap sih. Namun banyak di antara mereka yang memang menjadi sosok yang idealis untuk menempatkan dirinya sendiri untuk mengekspos ketidakadilan di lingkungannya. Biasanya target utama orang dengan tujuan seperti ini ya pemerintah. Selain pemerintah mereka juga kerap menargetkan kelompok agama, atau gerakan yang mempromosikan agenda tertentu yang tidak sejalan dengan pola pikir mereka.

Dan CLAY adalah kelompok hacker yang awalnya dibentuk untuk keperluan pamer doang sebenarnya. Tapi keahlian mereka mulai dialihkan dengan mencari kekayaan seperti contohnya bagaimana Max bisa memenangkan hadiah undian mobil dengan cara memutus semua sambungan telepon yang tertuju ke pemilik acara kecuali telpon darinya. Dari kesenangan-kesenangan itu CLAY mulai menargetkan hal yang lebih mengerucut lagi. Ego dari Benjamin untuk membuktikan kehebatannya pada MRX membawa CLAY dan dirinya pada posisi yang kurang menyenangkan. CLAY menjadi buronan internasional karena blunder fatal yang dilakukan Benjamin. Benjamin memberikan berkas nama-nama pegawai di BND kepada MRX, BND itu lembaga Intelijen Jerman, dimana diceritakan CLAY meretas server BND untuk membuat MRX kagum dan sebagai hadiah kecil Benjamin menambahkan hadiah berupa nama-nama pegawai BND ke MRX. Sialnya, MRX justru menjual hal itu ke salah satu Russia Cyber Mafia dan membuat Russian Cyber Mafia tersebut mengetahui bahwa ada anggota FRI13NDS yakni Krypton yang rupanya telah bekerja sama dengan BND. Disitulah CLAY menjadi sorotan karena kematian Krypton disangkut pautkan dengan penyerangan CLAY ke BND sebelumnya.

Akibatnya, Max, Paul, dan Stephen pun terbunuh. Benjamin yang tidak mau mati juga akhirnya menyerahkan dirinya ke Europol dan meminta hak perlindungan saksi untuk membocorkan semua yang ia tahu tentang MRX dan lain-lainnya. Berkat bantuan Benjamin dan kecerdikannya, Europol akhirnya bisa menangkap MRX yang rupanya adalah pemuda asal New York berusia 19 tahun.

Pada awalnya semua berjalan lancar, namun kepala Europol investigator cybercrime, Hanne Lindberg menyadari bahwa ada kejanggalan di setiap hal ceritanya Benjamin. Hanne melakukan penyelidikan sendiri tentang Benjamin dan membuat ia menarik kesimpulan kalau apa yang diceritakan Benjamin selama ini padanya adalah sebuah kebohongan. Bukan karena Benjamin ingin membohongi Hanne tapi karena Benjamin yang tidak bisa membedakan antara hal yang nyata dan yang tidak nyata. Lebih tepatnya, Benjamin mengalami gangguan jiwa yakni kepribadian ganda.

Sosok Max, Stephen, dan Paul adalah Benjamin sendiri. Benjamin membuat kepribadian Max, Stephen, dan Paul untuk menghibur dirinya sendiri dan agar ia merasa mendapatkan pengakuan dan kehadirannya diinginkan oleh orang lain. Benjamin membantah bahwa ia tidak memiliki penyakit seperti itu. Karena bila Benjamin terbukti memiliki penyakit kejiwaan, maka segala kesaksiannya selama ini tidak dapat diperhitungkan dan hak perlindungan saksi pun batal.

Benjamin mengemis-ngemis agar Hanne bisa membantunya, bila tidak Benjamin takut ia akan dibunuh juga oleh FR13NDS. Hanne yang merasa iba pada Benjamin lalu memberi Benjamin kesempatan dengan menghapus membawa Benjamin ke ruangan server dan menyuruh Benjamin menghapus data pribadinya.

Benjamin pun melakukannya dan dia pun bebas. Saat melepaskan Benjamin disinilah Hanne baru menyadari satu hal bahwa selama ini dia telah di retas oleh Benjamin. Ini adalah fase baru dalam dunia hacking yakni Social Hacking.

BAB III – Social Engineering

Film ini benar-benar memberikan gua ending film yang plot twist yang ngetwist abis. Hahaha

Oke-oke, jadi apa itu Social Engineering? Social engineering atau rekayasa sosial, adalah sebuah teknik manipulasi yang memanfaatkan kesalahan manusia untuk mendapatkan akses pada informasi pribadi atau data-data berharga. Dalam dunia cybercrime, jenis penipuan human hacking seperti ini dapat memikat pengguna untuk tidak menaruh curiga sama sekali pada pelaku. Human hacking itu kayak kalian dihipnotis tapi kalian tidak sadar kalau kalian sedang dihipnotis. Jadi jatuhnya kayak high levelnya menipu lah.

Di Who Am I, setelah Benjamin ketahuan oleh FR13NDS, dia langsung memberitahu Max, Stephen, dan Paul tentang itu. Dan ya, Max, Stephen, dan Paul itu bukanlah sosok fiktif khayalannya Benjamin, tapi memang orang yang benar-benar ada. Karena sudah tidak tahu apa yang harus dilakukan lagi, Max memberi ide bahwa target yang harus mereka kalahkan pada pertempuran kali ini itu MRX, jadi cara mereka adalah bekerja sama dengan Europol untuk menangkap MRX dan mengekspos FR13NDS. Jadi jatuhnya MRX dan FR13NDS bakalan di tangkap Europol dan CLAY akan bebas.

Tapi untuk melakukan itu, mereka harus melakukan social engineering ke Hanne Lindberg selaku kepala investigator cybercrime nya Europol. Benjamin yang memang memiliki background penyakit dari orang tuanya yang memiliki kelainan kejiwaan yakni kepribadian ganda akan diplot sebagai orang yang memiliki kepribadian ganda juga. Cara ini dilakukan karena apabila Benjamin langsung datang aja dan minta hak perlindungan saksi ke Europol dengan imbalan akan membantu menangkap MRX, mungkin Europol akan menyetujuinya, tapi Benjamin dan CLAY tidak akan pernah bebas dan akan terus dikekang oleh Europol. Jadi untuk bisa kembali bebas seperti sebelumnya, Benjamin harus memanipulasi Hanne untuk merasa iba kepada Benjamin dan kemudian memperbolehkan Benjamin untuk menghilang dan mengurus dirinya sendiri. Jadi jatuhnya sih kalau menurut gua cara ini itu Win to Win sih untuk CLAY dan Europol.

Dan film ini benar-benar membuka pemikiran gua lebih jauh tentang sosok hacker dan bagaimana mereka bisa mengekspos kerentanan seorang manusia. Hacker yang sudah ahli di bidangnya tidak hanya mencoba membobol komputer target terus sudah itu saja. Kemampuan mereka ter gambarkan dengan cukup jelas melalui film ini bagaimana kita sebagai manusia tergolong makhluk yang pada dasarnya mudah memberikan kepercayaan kepada orang, dengan beberapa alasan saja pribadi seseorang bisa terbongkar keseluruhan datanya dan membuat dia menjadi korban yang tak tahu apa-apa dan meninggalkan dirinya dan kebodohannya saja yang saling menyalah-nyalahkan.

 

Minggu, 05 September 2021

Tom Holland Adalah Spider-Man yang Buruk dan Alasan Kenapa Gua Gak Suka Spider-Man MCU!

The Amazing Spider-Man menghadirkan sosok Spider-Man yang lebih epik menurut gua.

Baru-baru ini publik gempar dengan melesatnya trailer Spider-Man No Way Home, kisah Spider-Man yang ketiga, hasil kolaborasi Sony dan Disney. Setelah menunggu sekian lama akhirnya kita akan diperlihatkan pertempuran Spider-Man melawan Sinister Six yang kabarnya muncul dari berbagai universe. Bahkan muncul desas desus liar mengatakan kalau Spider-Man No Way Home akan kembali memanggil para pemeran Spider-Man sebelum Tom Holland. Yah kita akan melihat Spider-Man Tobey Meguire dan Andrew Garfield. Sebuah fantasi liar yang sepertinya akan dikabulkan oleh Sony dan Disney.

Di postingan ini gua gak bakal ngebreakdown trailer dari Spider-Man No Way Home atau ngejelasin fantasi liar gua juga tentang film ini karena yah gua gak punya kapabilitas untuk hal itu. Daripada itu, gua pengen cerita aja dikit atau mungkin banyak deng, tentang film Spider-Man favorit gua yaitu The Amazing Spider-Man 2.

Yah sebelum kalian ngomelin gua karena suka film yang kalian mungkin gak suka, tapi itulah manusia brohh, preferensi kita pada suatu hal itu berbeda-beda. Semenjak Tom Holland datang dengan Spider-Man versinya dia, banyak orang langsung menyukainya. Kebanyakan karena keterlibatan Iron Man pada setiap tindakannya Spider-Man terutama suit nya Spider-Man Tom Holland yang bener-bener keren abiss karena dilengkapi perlengkapan dari Iron Man.

Tapi menurut gua Spider-Man nya Tom Holland masih kalah dibandingin Spider-Man nya Andrew Garfield. Spontanitas dan kreatifitas yang dimiliki Spider-Man Andrew Garfield tuh terlihat jelas di setiap tindakan yang dia ambil di The Amazing Spider-Man 2. Tanpa bantuan Iron Man pun Spider-Man Andrew Garfield bisa tuh ngalahi Electro di kandangnya Electro.

Kecerdikan nya Spider-Man bisa ngalahin Electro di PLN nya New York.

Jadi disini gua bakal ngejelasin alasan-alasan kenapa The Amazing Spider-Man 2 menurut gua adalah film Spider-Man terbaik dan penyebab-penyebab kenapa orang-orang pada gak suka dengan The Amazing Spider-Man 2. 


YANG BAGUS

  • Chemistry antara Andrew Garfield dan Emma Stone

Tidak lagi dengan MJ, kali ini cintanya Peter Parker berlabu ke Gwen Stacy.

Oke kita akan mulai dengan mereka berdua. Di antara dua MJ dalam trilogi Spider-Man nya Sam Raimi dan MCU, Peter selalu menjadikan cinta sebagai motivasi utama dalam segala Tindakan yang ia lakukan. Tapi berbeda dengan 2 versi dirinya itu, Peter di The Amazing Spider-Man jatuh cinta dengan Gwen Stacy. Chemistry mereka semakin terbentuk ketika keduanya pada dunia nyata memang berpacaran, yang kemudian membantu hubungan karakter mereka berdua menjadi lebih otentik.

Meskipun sejumlah penggemar mungkin memiliki masalah dengan kematian Gwen Stacy, tapi yah faktanya Gwen memang mati di komik, kematian Gwen adalah salah satu momen terbaik dan paling ikonis Garfield sebagai Spider-Man. Tidak ada momen dalam seri Spider-Man lain yang lebih emosional seperti ketika Peter menyadari bahwa kekasih tersayangnya itu telah meninggal di pelukannya.

  • Electro adalah Villain yang hebat

Sosok penggila Spider-Man yang kemudian beralih membencinya.

Dari semua rumor casting liar seputar siapa yang akan memerankan siapa di Spider-Man: No Way Home, satu yang sudah dipastikan sejak lama, bahwa Jamie Foxx akan Kembali mengambil peran lamanya sebagai Electro di film itu. Electro, sejauh ini adalah salah satu penjahat paling menarik yang pernah ditampilkan di film Spider-Man karena penonton harus banyak belajar darinya dia.

Kita bicara tentang Max Dillon seorang maniak Spider-Man yang naasnya dia tak punya seorang teman yang ada untuk mendukungnya. Adegan di mana Electro berbuat gaduh di Times Square ketika dia pertama kali menyadari kalau dia kini punya kekuatan super begitu menyenangkan bagi Max karena akhirnya orang-orang melihat dirinya. Pertarungan terakhir yang terjadi di PLN New York juga merupakan salah satu pertarungan terbaik di seluruh film Superhero mengingat betapa kuat dirinya.

  • Scene Aksi yang Kece Abis

Pertarungan di Times Square menjadi salah satu momen terbaik film ini

Mungkin ada banyak kritik yang berdatangan dari penggemar yang tidak suka bagaimana Rhino diperkenalkan, tetapi adegan aksi pembuka dengan sempurna menangkap nada keseluruhan filmnya. Spider-Man tidak pernah lebih cepat atau lebih gesit daripada yang ditunjukkan di film ini.

Adegan aksi yang seimbang dengan humor sarkastik ala Spidey, yang membuat musuhnya begitu kesal. Cara Spider-Man meloncat di antara taksi yang dilempar ke arahnya adalah bagaimana Spider-Sense nya bekerja dengan optimal. Dia juga menggunakan jaring laba-labanya untuk berayun secara fluid dan enak tuk dipandang hal yang belum pernah di perlihatkan di film Spider-Man lainnya.

  • Soundtrack

Salah satu yang paling konsisten di franchise The Amazing Spider-Man adalah konsistennya franchise tersebut dalam menyajikan soundtrack yang pas tuk didengar. Yang pertama diisi dengan music yang luar biasa seperti “Saving New York,” lagu yang diputar di The Amazing Spider-Man ketika Spidey melompat dari crane.

Musiknya tetap bagus di film keduanya, karena membangkitkan semangat, menggairahkan, dan terkadang chessy. Hans Zimmer tampaknya bereksperimen dengan beberapa instrument baru juga karena beberapa skor juga menampilkan beberapa dubstep juga.

Dan favorit gua yakni lagunya Alicia Keys dan Kendrick Lamar di Credit Scene filmnya, yaitu It’s On Again.

  • Visual Effect

Salah satu opening scene yang paling kece untuk film superhero

Efek visual akan selalu meningkat pada setiap film berturut-turut selama teknologi terus berkembang yang juga terjadi di franchise film Spider-Man dimana efek visual The Amazing Spider-Man jauh di atas Spider-Man Sam Raimi. Namun, meski begitu ada beberapa sentuhan magis Marc Webb yang tidak bisa dilakukan Spider-Man MCU nya Jon Watss.

Yang paling gampang untuk menggambarkan yang gua maksud tentu opening scene dari film ini yang langsung membuat penonton merinding dan merasakan kecepatan dari pergerakan Spider-Man. Saat Spidey meluncur di langit dari ketinggian yang monumental, bahkan suit bagian belakang Spidey juga terkibar karena angin. Ini yang kemarin dicoba sedikit di Far From Home saat Spider-Man membawa MJ kencan untuk pertama kalinya.

  • Kisah Richard dan Mary Parker

Foto bahagia keluarga Parker yang berujung tidak bahagia

Fans telah banyak kali mendengar tentang kematian Uncle Ben sehingga mungkin sudah tertanam baik di otak semua orang, tetapi kisah ayah Peter jarang diceritakan.

The Amazing Spider-Man 2 tidak hanya menyebutkannya secara sepintas, tetapi film tersebut menyelami lebih dalam tentang kecelakaan yang dialami Richard dan Mary Parker, dan bagaimana kemitraan bisnis yang dia miliki dengan Norman Osborn. Ada beberapa subplot Spider-Man yang hebat di fase ketiga MCU, tetapi kisah Richard adalah salah satu yang terbaik, karena kisahnya terungkap dengan cara yang mengejutkan, termasuk bagaimana Peter berhasil menemukan laboratorium kereta bawah tanah milik ayahnya.

  • Andrew Garfield

Andrew Garfield is the Best Spider-Man Ever!!

Di setiap survei penggemar yang dibuat untuk menentukan siapa Peter Parker terbaik, yang sering terjadi adalah Andrew Garfield berada di urutan terbawah. Garfield dirasa terlalu keren sebagai Peter Parker yang kutu buku dan unpopular fotografer. Tapi lain cerita ketika pertanyaannya siapa Spider-Man yang terbaik.

Ketika Garfield mengenakan topengnya, dia memiliki sikap sombong dan arogannya Spider-Man. Di setiap aksinya ia terus menerus mempermainkan penjahat seperti dia kucing dan penjahatnya adalah tikus. Itu sebabnya Garfield adalah Spider-Man yang lebih baik daripada Tom Holland. Bahkan ketika ditabrak oleh mobil pun, mobilnya gak berhenti karena sopirnya tau yang dia tabrak itu Spider-Man jadi woles bae. Hahaha.


Oke kita udah bahas yang bagus-bagusnya nih dari The Amazing Spider-Man 2 menurut gua. Meski begitu bagi sejumlah orang The Amazing Spider-Man 2 dianggap sebagai entri yang lemah dan banyak yang menunjukkannya sebagai langkah yang salah dalam pengembangan ceritanya. Tepi kenapa? Kenapa The Amazing Spider-Man 2 dianggap buruk? Ini beberapa alasannya.


YANG BURUK

  • World Building
Ketamakan dalam membangun cerita berakhir buruk bagi Sony

Di awal tahun 2000-an alasan kuat kenapa suatu studio film membuat sekuel dari suatu film karena film pertama nya yang ternyata laku keras. Itu terjadi pada film Spider-Man 1 yang kemudian melahirkan Spider-Man 2, dst. Namun arah pergerakan industri perlahan mulai berubah, MCU datang dan membuktikan kalau film spin-off yang saling terhubung di ending credit scene nya dapat menghasilkan uang yang jauh lebih banyak. Ini yang kemudian dianggap sebagai peluang oleh Sony Pictures.

Mereka kemudian mulai membuat universe mereka sendiri, bermodalkan hak milik Spider-Man yang mereka beli di masa lampau dari Marvel, franchise The Amazing Spider-Man pun dibuat. mereka juga mulai memperkenalkan karakter yang saling terhubung di masa depan dan juga special project nya norman Osborn yang mengindikasikan akan adanya Sinister Six di masa depan.

Namun mungkin karena ketamakan dalam mempersiapkan segala sesuatunya di masa depan, hal ini yang kemudian berdampak langsung ke kisah The Amazing Spider-Man 2 dimana dalam storynya sendiri memang terlalu banyak set up set up yang dipersiapkan untuk sekuel The Amazing Spider-Man 2 kedepan sehingga mengorbankan focus pada ceritanya sendiri.

  • Plot Cerita yang Sebenarnya

Melanjutnya tentang set up film yang terlalu banyak dalam 2 jam penayangan, mengakibatkan The Amazing Spider-Man 2 harus mengorbankan beberapa scene penting dipangkas dari filmnya. Salah satu yang ramai kala itu yakni kembali nya Richard Parker, ayah Peter Parker yang sebelumnya telah dianggap meninggal.

Sebuah leak delete scene memperlihatkan bahwa ada scene dimana Richard Parker menghampiri Peter yang sedang berziarah ke makamnya Gwen Stacy. Di scene ini juga dialog paling terkenal di jagat Spider-Man dilontarkan bukan oleh Uncle Ben tapi ayahnya Peter 

“With great Power, come great responsibility.”

Scene lainnya yang juga dihapus adalah kemunculan Mary Jane Watson yang diperankan Shailene Woodley, aktris yang Namanya sedang melegit parah kala itu setelah bermain di film Divergent. Masih diperdebatkan sebenarnya apakah keputusan studio menghapus scene itu adalah hal yang baik atau buruk. Tapi menurut gua, 2 scene penting itu disimpan untuk film selanjutnya yang sayangnya harus di cancel karena Spider-Man harus muncul di MCU huhuhu.

  • Kematian Gwen Stacy

Kematian Gwen Stacy adalah kematian yang dianggap paling tidak perlu

Di ending filmnya, dan momen yang paling banyak dibicarakan juga oleh para fans adalah kematian Gwen Stacy. Yah walau memang sebenarnya Gwen terbunuh di versi komiknya, tapi bagi mereka yang gak terlalu popular baca komiknya tentu menjadi sangat shock ketika Gwen harus dimatikan karakternya yang kemudian berujung tidak sedikit penonton merasa kecewa.

Film Spider-Man memiliki momen tragedinya masing-masing. Kematian Uncle Ben di film pertamanya, dan kemudian kematian Gwen di film kedua, namun untuk kematian Gwen rasanya memang terasa salah nilai. Dengan hampir tidak ada durasi yang tersisa di filmnya, Gwen mati di waktu yang salah menurut gua dan akhirnya momen berduka nya Peter tidak terlalu terasa. Kembali ini yang menurut gua diproyeksikan sebenarnya sama Sony Pictures bahwa mereka rencananya mau ngeceritain kisah kesedihan nya Peter di film ketiganya, namun sayangnya harus dicancel karena MCU hahaha.


Semua pembahasan gua selama beberapa menit ini adalah factor-faktor penting kenapa gua suka dan kenapa mereka tidak suka dengan The Amazing Spider-Man 2. Walau memang harus gua akuin dari sisi penceritaan sekuelnya ini kurang baik daripada pendahulunya.

Film ini memiliki basis penggemar yang setia, tetapi juga memiliki penggemar yang kecewa. Fakta bahwa franchise ini berakhir setelah film kedua, alih-alih melanjutkan The Amazing Spider-Man 3, juga tidak membantu meningkatkan statusnya.

Tapi bagaimana menurut kalian? Apakah The Amazing Spider-Man 2 merupakan mata rantai yang lemah yang memang tidak pantas untuk dibuat kan sekuelnya atau kita perlu melakukan penceritaan yang lebih fair pada film ini? Apapun pendapat kalian, yukss suarakan pendapat kalian di kolom komentar.

Stay Healthy, and Stay Safe guys.

Jumat, 06 Agustus 2021

Jasa BerAlasan - Kenapa Captain America The Winter Soldier adalah Film MCU Favorit Gua

Gua menghabiskan banyak waktu di internet buat bicara dan ngomongin tentang arti dari suatu film, mencoba menganalisis apa yang dikatakan oleh beberapa film bermerek perusahaan PG-13 yang sukses besar tentang budaya kita atau zaman dimana kita hidup. Gua ngelakuin itu memang karena film menjadi lebih tertarik menangani tema-tema yang berbobot. Tapi gua juga melakukan ini karena menyenangkan menggunakan hal-hal populer sebagai prisma untuk memahami masalah di zaman kita ini.

Jadi gua benar-benar terkejut dan terkesan dan terpesona ketika gua nonton lagi Captain America: The Winter Soldier dimana secara jelas film ini menjabarkan ke kita semua bahwa aparat intelijen modern kita dan seluruh sistem keamanan nasional kita merupakan penjahat terbesar di abad ke-20. Dan lebih buruknya lagi, kita menyambut mereka seakan messiah yang dengan bebas dan atas keinginan mereka dapat mengendalikan diri kita. Dalam istilah dunia nyata, Winter Soldier pada dasarnya mengatakan bahwa NSA diciptakan oleh nazi dan kita membiarkannya begitu saja. ini sejalan dengan apa yang dikatakan oleh kritikus EW Owen Gleiberman dimana dalam ulasannya ia mengemukakan bahwa villain di The Winter Soldier benar-benar kompleksitas industri militer.

Akhir-akhir ini gua kepikiran tentang bagaimana kita membangun makna tentang budaya pop, disaat kita yang secara umum menggemari franchise yang bernilai miliaran dolar seperti MCU. Di satu sisi, menurut gua tidak masalah jika filmmaker membuat film dengan mengatakan sesuatu yang spesifik, memang, kalian bisa berargumen bahwa membuat film dengan ide-ide tertentu akan kurang menarik, bahwa yang paling penting itu karakternya ikonik dan gaya penceritaannya menarik. Tidak ada orang yang menulis judul ini dapat dengan aman mengkritik siapa pun karena terlalu banyak membaca tentang budaya pop.

Pada saat yang sama, relatif sulit ditemukan film besar dimana ide sentralnya benar-benar memiliki kejelasan dan filmmaker mengambil langkah ekstra di luar nalar untuk memperkenalkan budaya kontemporer menurut dirinya. Untuk semua pembicaraan tentang nihilisme, yang adalah sentral dari trilogi Batmannya Christopher Nolan, apa yang membuat The Dark Knight hebat bukan karena bagaimana ia mengubah Joker menjadi teroris gila tak berperasaan.

The Dark Knight memasukkan beberapa ide ke dalam siklusnya, tetapi pusatnya tetap sama, ini yang kemudian menjadi kekurangan bagi banyak film lainnya. Joker bukanlah orang yang melakukan tindakan terorisme karena negara, atau uang. Memang kalau mau dipikir lagi, Joker melakukannya karena ya dia mau saja. Sebaliknya, The Dark Knight Rises gagal karena Bane terlalu banyak diberikan tujuan: Bane adalah teroris sosialis fundamentalis yang rupanya budak cinta dari anak gadisnya Ra’s Al Ghul.

Film-film superhero garapan Nolan begitu menyukai penggamaran yang kalau bisa senormal mungkin, lihat saja bagaimana membuminya Man of Steel. Sejauh ini, film-film dari Marvel Studios telah bergerak ke arah yang jauh lebih ringan. Iron Man dimulai dengan tur yang berakhir dengan si Tony Stark dibom oleh senjatanya sendiri, namun ketika ia segera memutuskan untuk menjadi superhero dan menghentikan sepenuhnya semua produksi senjata di perusahannya yang bernilai miliaran dolar, kita secara resmi berada di dunia fantasi.

Tapi kemudian kita sampai di Captain America: The Winter Soldier. Ada saat ketika Cap mengetahui bahwa pemimpin misterius dari organisasi jahat yang disebut Secret Empire adalah beberapa politisi yang mungkin salah satunya adalah Richard Nixon.

The Winter Soldier adalah film yang dibungkus dengan ikonografi politik Amerika. Misi Captain America ke Lemurian Star adalah special operation yang dijalankan dengan baik dimana mengingatkan kita pada pertarungan antar superhero yang diselimuti ala-ala Metal Gear Solid yang menyenangkan dan menyimpan banyak informasi di dalamnya.

Kemudian ada scene dimana Nick Fury menunjukkan ke Captain America mega-helicarrier rahasia. Fury juga menjelaskan suatu perumpamaan yang kemudian gua jadikan sebagai moto hidup gua dalam menilai orang lain. “Kalian boleh suka dengan siapa saja, tapi jangan pernah percaya dengan siapa saja”. Scene dilanjutkan dengan Fury menunjukkan Stick: Weaponry yang dapat membunuh 100 orang dalam sekejap dan bisa membaca DNA teroris dari jarak satu juta mil. “Saya pikir hukuman biasanya datang setelah kejahatan, kau menodongkan senjata ke semua orang di Bumi dan menyebutnya perlindungan. Ini bukan kebebasan, ini ketakutan.” Ujar Captain America sesaat mengetahui kehebatan mega-helicarrier. Di lanjut bahwa di masa Captain America dulu, orang-orang melakukan hal buruk demi membuat dunia lebih baik- tapi dunia lebih baik menurut Captain America bukan lah seperti saat ini.

Lalu Cap pergi menemui Peggy Carter, sang pujaan hati yang sudah digantungin selama berdekade-dekade. Belakangan diketahui bahwa Peggy Carter adalah salah satu inisiator SHIELD. Dialognya yang memorable juga adalah “Terkadang, yang terbaik yang bisa kita lakukan adalah memulai dari awal”. Pesan untuk sang Captain untuk memulai lagi kehidupannya dan merelakan apa yang sudah terjadi biarlah terjadi.

Di penghujung film, Alexander Pierce bertanya ke dewan direksi, bagaimana jika Anda mengetahui bahwa seseorang akan datang tuk membunuh putri Anda dan Anda hanya butuh satu kali klik untuk menghentikan pembunuhan itu?

Pierce juga menanyakan hal yang sama pada Nick Fury. Karena Pierce menganggap dirinya sebagai pahlawan saat ini karena bersedia membunuh beberapa juta orang demi menyelamatkan miliaran. Tanggapan Fury? Kalimat yang bagus di babak ketiga film yang menurut gua keren abis “Saya cukup berani untuk tidak melakukannya.”

Scene ini terjadi tepat di saat Captain America menolak melawan sahabatnya – Bucky yang malang dan telah dicuci otaknya. Bucky sama seperti dirinya, seorang penjelajah waktu yang dijadikan mesin pembunuh oleh HYDRA. Cap tiadk bisa membunuh Bucky jadi dia berhenti melawan dan membiarkan si Winter Soldier menghabisinya. Narasi makro dan mikro di film ini berada di titik klimaks yang sama. Fury berhasil mengagalkan impiannya Pierce dan Captain America membuat Winter Soldier mengingat kembali dirinya di masa lalu.

Winter Soldier menunjukkan ke kita bahwa Marvel bersedia menggali karakter-karakternya untuk membiarkan mereka menjelajahi dunia nyata dan kontemporer kita. Karakter Black Widow yang adalah mata-mata tanpa identitas asli itu pun memiliki sisi humanisnya dengan berani mengungkapkan segala rahasianya bersama dengan semua rahasia-rahasianya SHIELD. Yahh, film ini begitu cepat di babak ketiganya.

Winter Soldier menegaskan, bagi gua bahwa Captain America adalah franchise film paling menarik di semesta Marvel. Karena kesediaannya untuk terlibat dengan dunia yang mirip dengan dunia kita. Tidak seperti dunia Iron Man apalagi Thor. Gua cinta dengan kesan dan kekuatan pesannya. Di awal film Fury menawarkan pernyataan yang mempromosikan realisme: “SHIELD mengambil dunia apa adanya, bukan seperti yang kita inginkan!”. Ini adaah film yang optimis, tetapi beroperasi dari posisi paranoid dan sinisme. Ia membenci Amerika, namun percaya pada Amerika. Sebuah paradox, tetapi juga sebuah janji setia untuk negara.



Senin, 19 Juli 2021

Kanto Vs Kansai - Dua Wilayah Metropolitan dengan Masyarakat yang Saling Bertolak Belakang

Minggu ini gua baru beres nonton film anime Josee, the Tiger, and the Fish yang kalau di Jepang sebenarnya rilis akhir tahun 2020 lalu. Ketertarikan gua nonton film ini datang setelah gua liat trailernya yang ngingetin gua ke film-filmnya Makoto Shinkai seperti Kimi no Nawa dan Tenki no Ko yang kece abis.

Singkatnya film ini menceritakan Tsuneo, seorang mahasiswa yang bermimpi dapat kuliah di Meksiko untuk mewujudkan mimpinya berenang di laut Meksiko. Untuk mewujudkan mimpinya itu, Tsuneo bekerja keras mengumpulkan uang, salah satunya kerja sambilan di toko persediaan alat diving. tapi karena merasa kurang, Tsuneo mencari pekerjaan tambahan dan ia ditawari pekerjaan merawat Josee, wanita yang memiliki penyakit sejak lahir sehingga membuat kakinya lumpuh.

Quick Review aja dari gua, kalau film ini benar-benar bagus banget dari segi visual yang ciamik dan scoring musik yang kece abis. Ini berdasarkan preferensi gua ya karena memang gua yang suka lagu-lagunya Eve semenjak lagunya jadi opening song anime Jujutsu Kaisen. Animasi visualnya juga digambarkan dengan begitu indah sama studio Bones yang namanya sudah cukup terkenal setelah anime garapannya yang banyak disukai penggemar seperti Boku no Hero series, Fullmetal Alchemist, dan Noragami. Tapi kayaknya anime ini tidak hanya digarap sendiri oleh Bones deh karena di deretan kredit filmnya nunjukin juga nama beberapa studio yang juga ikut serta dalam pengembangan film ini dan salah satunya gua familiar banget yaitu wit studio, animator anime Attack on Titan Season 1-3.

Di segi ceritanya, anime ini membawa kisah melodrama yang sayangnya sudah banyak diterapkan di banyak film-film lainnya, hanya dimodif dengan poin-poin wahh saja hingga akhirnya ngebuat penontonnya ikutan wahh. Tapi balik lagi, tidak ada yang begitu spesial dari plot cerita film ini.

Yang justru menarik perhatian gua, bukan hanya visual, scoring, atau plot cerita tapi dialek Kansai yang digunakan sepanjang film ini utamanya yang diucapin Josee selama film ini bergulir. Kalian tahu gak kalau rupanya ada 47 accent yang tersebar di seluruh Jepang dengan 2 aksen utamanya dibedakan menjadi Kanto dan Kansai dengan dimana Kanto berpusat di Tokyo sementara Kansai di Osaka. Karena Josee, The Tiger and the Fish bersetting di Osaka maka tidak heran Josee menggunakan aksen Kansainya Osaka. Jadi lebih lanjut gua bakal jelasin perbedaan antara 2 kota paling populer di Jepang ini.

1.      Perbedaan Dialek

Salah satu perbedaan terbesar yang dapat dengan mudah kita ketahui dari Kanto dan Kansai adalah cara penduduk setempat berbicara bahasa Jepang. Singkatnya, gaya yang digunakan kedua wilayah tersebut dapat digambarkan sebagai monoton untuk Kanto versus Ekspresif untuk Kansai.

Bahasa Jepang yang kalian dengar di daerah Kanto seperti Tokyo, Chiba, atau Yokohama dapat disebut sebagai “Bahasa Jepang Standart”. Nadanya sangat datar dan lugas, dan itulah yang biasa kalian dengar di media seperti TV atau film. Sementara dialek Kansai hadir dengan kepribadiannya sendiri. Nadanya begitu dinamis, yang membuat dialek kansai bisa jadi sulit untuk dipahami bahkan oleh penduduk asli Kanto, apalagi bagi orang non-Jepang yang baru tinggal di daerah tersebut.

Berikut beberapa perbedaan antara bahasa Jepang Kanto vs Kansai

·         Terima kasih

-         Arigato in Standard, Okini in Kansai

·         Keren

-         Kakkoii in Standard, Shutto shiteru in Kansai

·         Teman

-         Tomodachi in Standard, Tsure in Kansai

·         Permisi

-         Sumimasen in Standard, Sunmasen in Kansai

·         Mother

-         Okasan in Standard, Okan in Kansai

Karena sifat emosional dan ekspresif sangat terkenal pada dialek orang-orang Kansai, hal ini dilihat oleh orang-orang Kanto cukup kasar dan kurang pantas, sehingga mendorong beberapa penduduk asli Kansai yang tinggal di kota-kota seperti Tokyo untuk mencoba dan menyembunyikan aksen mereka.

Faktor itulah yang kemudian membuat banyak orang non-Jepang merasa jauh lebih mudah memulai pembicaraan dengan seseorang dari wilayah Kansai karena mereka lebih ramah dengan orang asing. Orang Jepang dari daerah Kansai dikenal sangat ramai dan riuh, dengan suara keras dan selera humor apapun. Jenis humor ini mungkin tidak begitu cocok dengan orang-orang dari wilayah Kanto yang biasanya lebih pendiam.

Sebagian orang dari Kansai memaknai ketenangan orang Kanto sebagai sifat dingin. Beberapa hipotesis menjelaskan bahwa kepribadian yang kontras di Kanto khususnya di Tokyo karena budaya kerja yang serba cepat dan selalu aktif di mana sepertinya tidak ada waktu untuk berteman, apalagi memulai percakapan dengan orang asing.

Faktor lain yang berkontribusi adalah bahwa Tokyo adalah kota transplantasi, dengan banyak penduduknya yang bermigrasi dari bagian lain Jepang. Karena latar belakang dan adat yang beragam, berpotensi menimbulkan konflik satu sama lain, sehingga orang-orang Tokyo percaya bahwa masyarakat di kota metropolitan akan lebih damai dan aman jika semua orang menjaga diri mereka sendiri.

Orang-orang dari wilayah Kanto dan Kansai mungkin memiliki prasangka mereka sendiri tentang satu sama lain, dan beberapa dari prasangka itu kemudian menimbulkan sedikit banyaknya respon kurang baik diantara mereka. Namun, kedua gaya hidup dikotomis ini bekerja sama untuk kemudian memberi Jepang karakter multi-segi yang buat gua makin pengen tahu lebih banyak.

Rabu, 14 Juli 2021

Raya and the Last Dragon: Kenapa sekarang adalah waktu yang tepat untuk mengistirahatkan “Asian” sebagai kategori film.

Raya and the Last Dragon: Kenapa sekarang adalah waktu yang tepat untuk mengistirahatkan “Asian” sebagai kategori film.

Raya and the Last Dragon seharusnya bisa menjadi suatu bentuk perayaan karena akhirnya Hollywood memiliki film animasi yang seluruh pemerannya adalah keturunan Asia. Keinginan menonton film ini datang setelah melihat kesuksesan film-film Asia di ranah Oscar tahun ini, sebut saja Nomadland yang disutradarai kloui Zhao, seorang wanita keturunan China yang meraih best director dan filmnya dinobatkan sebagai best picture di Oscar 2021. Youn Yuh-jung di Minari juga yang mendapat Best Supporting Acress Oscar 2021. Tapi dari semua hal itu, apakah dengan bergulirnya waktu, kategori “Asian” dalam kategori film perlahan akan terkikis?

Raya and the Last Dragon memperlihatkan betapa tidak membantunya kata “Asian” bagi dunia film. Berlatar belakang di dunia fiksi Kumandra, yang terasa sangat Asia Tenggara. Animation Artist film ini sendiri mengaku kalau mereka terinspirasi membuat Kumandra setelah meneliti budaya di Vietnam, Laos, Kamboja, Thailand, Malaysia, dan Indonesia. Hal itu tercermin dalam detail visual yang amat rinci, seperti pada arsitektur, lanskap, makanan, senjata, kostum, dan juga warna. Setidaknya bagi mata orang luar, yang dilakukan para animation artist adalah suatu hal yang hebat dan terhormat.

Satu masalah kemudian muncul: bahwa selain Tran (yang orang tuanya berasal dari Vietnam), sebagian besar pengisi suara Raya and the Last Dragon adalah mereka yang berdarah China atau Korea – jadi secara umum mereka adalah orang Asia Timur bukan Asia Tenggara. Langkah itu kemudian menuai beragam kritikan online. Satu surat terbuka untuk Disney dari California University yang mengawan, bahwa menolak Raya and the Last Dragon sebagai “representasi nyata Asia”.

Dalam pembelaan Disney, mereka menjelaskan kalau banyak anggota tim produksi dari Raya and the Last Dragon adalah orang-orang Asia Tenggara, termasuk penulis Qui Nguyen dan Adele Lim. Namun masalah ini diperparah oleh latar fiksi Raya, yang secara jelas menyatukan wilayah yang sangat beragam di dunia ini. Disney sebelumnya banyak memproduksi film yang merepresentasikan kondisi geografis suatu wilayah, sebut saja Aladdin yang berlatarkan “Agrabah”, semacam tempat di Arab dan “Motunui” nya Moana yang mewakili wilayah Polinesia. Namun kedua film itu jelas tidak merepresentasikan budaya suatu negara secara jelas.

Sebaliknya, kisah Disney Eropa justru terasa lebih spesifik: Brave dari Skotlandia, dan Beauty and the Beast dari prancis. Bagaimana perasaan kalian ketika budaya khas dari negara kalian dicampur padukan dengan budaya dari negara lain? katakanlah seperti mencampur budaya Inggris, Prancis, dan Jerman yang tentu tidak ada kesamaan sama sekali.

Mungkin secara umum “Asia Tenggara” adalah suatu bentuk kemajuan dibandingkan hanya sekedar “Asia” saja. Beberapa orang di Twitter juga menyatakan kegembiraan mereka karena budaya dari negara mereka akhirnya dilihat oleh Hollywood. Ini adalah garis tipis antara representasi dan apropriasi. Meski begitu, Disney setidaknya siap untuk mencoba melangkah kedepan.