Senin, 04 Oktober 2021

Free Guy (2021): Hanya Reynolds yang Bikin Film ini Bagus😒 || Jasa Review

Di Deadpool, Ryan Reynolds mengubah pandangan penonton tentang perawakan super hero dengan lawakan dewasanya. Sekarang, Reynolds kembali muncul di film bertema video game yakni Free Guy. Film aksi yang dikemas dengan humor yang berani dan sedikit mengganggu di beberapa kesempatan.

Free Guy tidak mengambil judul game tertentu untuk diadopsi secara penuh, Free Guy berjalan di dunia nya sendiri yakni dalam game Free City di mana dikisahkan seorang NPC atau Non Playable-Character yang bernama Guy menjalani hidup sebagaimana yang diprogramkan untuknya. Guy kemudian merasa bosan dengan kehidupannya yang begitu-begitu saja dan mulai mempertanyakan aturan dunia Free City yang begitu kejam menurutnya. Saking bosannya dengan konsep kekejaman di game Free City, Guy sampai menjadikan perampokan di bank tempat dia bekerja sebagai rutinitasnya. Namun rasa bosan itu mulai terobati setelah pertemuannya dengan seorang Player bernama Molotov Girl di persimpangan jalan yang diperankan cukup baik oleh Jodie Comer.

Agar bisa mendapatkan hati Molotov Girl, Guy mengambil kacamata seorang player agar ia bisa melihat dunia yang sama seperti yang player Free City lihat selama ini. Guy lalu menemukan dirinya dikelilingi berbagai item power-up, loot, dan mission yang membuat kita teringat penggambaran game RPG yang menyenangkan.

Guy memulai misinya dengan menggagalkan berbagai upaya perampokan di bank tempat ia bekerja, menghentikan player-player yang mengamuk di kota, dan juga membantu si pujaan hati mendapatkan hal yang ia inginkan, tidak lupa sebagai film aksi, setiap tindakan yang dilakukan Guy disuguhkan dengan beragam aksi yang memanjakan mata. Terjun payung, balapan mobil, bazoka, ledakan, perang, dan huru-hara yang dibingkai dengan cukup rapi oleh Shawn Levy selaku sutradara. Gua bilang cukup rapi karena setiap Guy berjalan di trotoar dengan senyum lebar di wajahnya, ada truk yang berjalan menghancurkan NPC lain di sebelahnya. Situasi kontras di antara keduanya itu yang kemudian membentuk dunia Free City menjadi aneh, dan terkesan lucu setiap kali melihatnya.

Reynolds adalah sosok yang sempurna untuk karakter Guy. Lewat  film ini, keterbukaan Guy tentang kegembiraan dan ketakutannya setelah menjadi player di Free City sama menyenangkannya seperti saat Reynolds berperan sebagai Deadpool, hanya mungkin minus ransel penuh senjata dan aksi-aksi pembunuhan kejam tak berakhlak saja. Sosok Reynolds saat ini sama seperti Jim Carrey yang menjadi ikon di tahun 90-an. Pada dasarnya kehadirannya pada suatu film sudah jelas mengindikasikan bahwa akan ada hiburan jenaka yang pasti keluar dari mulut Ryan Reynolds.

Dalam babak kedua filmnya, Free Guy membuka fokus penceritaan pada 2 setup kisah, yakni di Free City dan di dunia nyata dimana Molotov Girl bersama rekannya yakni Keys berjuang membongkar kebohongan dari game Free City yang secara diam-diam telah mengcopy code dari gamenya Keys yakni Free Life. Keys yang diperankan oleh Joe Kerry yang menawan di Stranger Things, kurang ekspresif dalam perannya sebagai seorang programmer game di film ini. Kehadiran Taika Waititi yang telah memukau para fans di dalam dan balik layar pun kharismanya terasa kurang tersampaikan. Itu yang kemudian membuat Free Guy saat maju ke babak ketiga pun, gua masih merasa sulit untuk bisa mendapatkan ikatan batin dengan kisah yang ada di dunia nyata. Kalau kalian gamer, mungkin penggambarannya seperti betapa bencinya kalian dengan setting present day nya Assassin’s Creed.

Adapun asmara yang dihadirkan di film ini agaknya kurang ditangani dengan baik. Sentimentalitas antara Guy dan Molotov Girl memang hadir dengan pertemuan yang lucu dan menggemaskan, sampai-sampai Molotov Girl membawa rasa bapernya itu ke dunia nyata. Tapi pada akhirnya, sisi romansa itu seperti dihilangkan begitu saja pada babak berikutnya, ini berkaitan dengan Molotov Girl yang menemukan cinta aslinya di dunia nyata. Namun sisi romansa ini sedikit tergantikan dengan kemunculan item-item ikonis di film ini. Sebut saja seperti perisai Captain America, Tangan Hulk, hingga Lightsaber. Mengingat film ini berada di naungan Disney. Tentu menyenangkan melihat item ikonis dari franchise yang kita gemari.

Dan akhirnya, Free Guy begitu menyenangkan di satu jam pertamanya, diisi dengan lelucon konyol dengan ledakan dimana-mana. Kehadiran Ryan Reynolds membawa kesenangan yang luar biasa dalam lingkungan imajinatif yang memukau yang memperlakukan game seperti negeri ajaib. Dan gua harus bilang, karena kebetulan bioskop sudah buka jadi bukan pilihan yang buruk memilik Free Guy sebagai tontonan akhir pekan kalian. Dan Free Guy gua labelin, Worth to Watch!

Oke jadi itulah review film Free Guy, semoga kalian bisa mendapatkan insight lebih terkait film ini dari gua. Dan akhir kata

Selasa, 28 September 2021

Kalian harus nonton “Squid Game” di Netflix, kayak Fall Guys tapi dengan Pembunuhan

Ada banyak tontonan menarik yang diberikan Netflix ke subscriber setia mereka setiap minggunya. Dan bagi banyak orang, gua gak pernah membayangkan K-Drama dengan judul yang terdengar aneh pas pertama kali mendengarnya seperti “Squid Game” atau “Permainan Cumi-cumi” akan menonjol dan digemari banyak orang.

Gua nonton 9 episode series ini ditemani gorengan tempe + pisang molen di malam minggu yang membuat gua menarik kesimpulan bahwa Squid Game adalah salah satu projek Netflix paling menarik yang pernah gua liat belakangan ini. Dan kalau kalian bingung sama judulnya, berjalannya series ini kalian akan mengetahui kenapa series ini diberi judul Squid Game.

Ide utama Squid Game adalah adanya suatu organisasi misterius yang merekrut sejumlah orang Korea yang kurang beruntung dan terlilit hutang menggunung untuk saling bersaing dalam serangkaian permainan anak-anak di mana pemenangnya akan dihadiahi miliaran won, atau bocoran saja hadiah akan yang didapatkan si pemenang adalah Rp554.496.000.000,00

Dengan uang sebanyak itu, permainan yang dimainkan bukanlah permainan sejenis gulat atau semacamnya. Sebaliknya, permainan yang dimainkan adalah semua permainan anak-anak di masa kecil. Beberapa game mungkin cukup familiar bagi kita orang Indonesia, tapi beberapa game hanya ada di korea saja.

Dalam banyak hal, saat gua menonton series ini i got memory call pada acara Benteng Takeshi yang ada di TV dulu. Acara TV Jepang yang terkesan konyol dimana merekrut sejumlah orang untuk berjuang melewati berbagai rintangan untuk meruntuhkan benteng takeshi. Atau mungkin bagi kalian yang mengikuti tren game beberapa waktu lalu, series ini rasanya seperti game Fall Guys dimana kita berjuang untuk mengeliminasi lawan kita pada setiap stage nya.

Tapi eliminasinya benaran di bikin mati.

Inilah titik menariknya. Semua permainan anak-anak yang ada di series ini memiliki konsekuensi kematian bila si pemain kalah atau melakukan kesalahan. Dan kekejaman mereka gak tanggung-tanggung. Di awal series, Squid Game dimulai dengan 450 orang lebih, tetapi di stage awal saja sudah nyaris setengahnya yang tereliminasi atau mungkin lebih tepatnya tereksekusi oleh tembakan sniper.

Semua ini diorganisir oleh suatu organisasi dalam bayangan yang diperlihatkan dalam balutan pakaian ala tombol PlayStation di mana diketuai oleh yang lebih misterius bernama The Front Man. Hingga akhir series, tidak ada clue yang menunjukkan tujuan organisasi ini yang sebenarnya. Tetapi titik menarik dari series ini ketika mereka mendorong para pesertanya untuk membentuk aliansi, melakukan pengkhianatan, atau bahkan memutuskan keluar dari permainan ini. Tetapi karena fakta bahwa semua orang yang mengikuti permainan ini terlilit hutang yang sangat banyak dan sangat-sangat-sangat membutuhkan uang, maka tidak ada jalan lain selain mengikuti permainan yang mengancam nyawa ini.

Benar series ini membawa metafora tentang orang kaya yang mengambil seluruh keputusan dan hak memilihnya orang miskin, tetapi pada dasarnya itu yang membuat sembilan episode Squid Game begitu mencekam, dan beberapa scene mengingatkan gua ke film Battle Royale nya Kinji Fukasaku, di mana film itu juga yang menjadi awal lahirnya generasi baru dalam film, series, dan video game. Mungkin Squid Game akan menjadi penggagas baru seperti Battle Royale, tapi faktanya The Hunger Games adalah salah satu film yang memiliki konsep serupa dengan Squid Game, jadi series ini memang terasa fresh tapi kurang dalam inovasi.

Ini adalah series yang aneh, penuh kekerasan, menganggu, dan jika kalian mencari tontonan yang menghibur di mana dipenuhi scene yang mengundang tawa, maka Squid Game bukanlah pilihan yang tepat dan sebuah kesalahan menonton series ini. Tapi gua bakal rekomendasiin buat kalian yang pecinta gore, memiliki sedikit banyaknya alter ego psikopat di dalam diri kalian dan suka sama perjuangan seseorang mendapatkan sesuatu tanpa memedulikan apapun.

Sabtu, 07 Agustus 2021

Review Film The Suicide Squad (2021): Sangat Gila dan Sangat Kejam

Suicide Squad bukanlah sebuah reboot atau sekuel dari Suicide Squad 2016 karena entah film ini berada di universe yang berbeda dengan Suicide Squad 2016 atau film ini adalah sekuel dari Bird of Prey rilisan 2020. Tapi yang jelas kita ketahui bahwa film ini hadir dengan formula baru yang fresh dan lebih mudah diikuti daripada Suicide Squad arahan David Ayer.

Sungguh menyenangkan menghabiskan waktu menonton film ini. Sekali lagi, para penjahat berkekuatan super dikirim dalam misi operasi yang berbahaya, memungkinkan film ini benar-benar mengadopsi rating R yang melekat padanya. Tidak seperti film-film superhero lainnya, yang setiap karakter seakan punya baju besi kebal bin ajaib yang membuat karakternya tidak terluka meski dihujani peluru, Suicide Squad adalah film dimana para badut dengan kekuatan super itu juga bisa mati kapanpun dan dimanapun. Menonton film ini memberikan feel rasa tegang yang sama Ketika menonton seri Game of Thrones karena kita tidak tahu kapan Jon Snow akan benar-benar mati?

Dan saat karakter-karakter itu terbunuh, penggambarannya benar-benar full tanpa ada sensor sedikit pun. Mulai diiris dan dipotong menjadi dadu, dibakar dan diledakkan dengan darah dan isi perut yang berhamburan kemana-mana. Terkadang scene kematian seperti ini dihadirkan sebagai nilai kejutan, humor, atau untuk sekedar memutus tali hati nurani kita. Dan itulah kenapa film ini bekerja dengan sangat baik.

Suicide Squad memungkinkan James Gunn melakukan apa yang ia jago pada hal itu. Dia adalah seorang sutradara yang ahli dalam menjalin aksi dan drama dengan kecerdasan dan humor yang memang diharapkan dari sutradara Guardians of the Galaxy, tetapi ada sesuatu yang lebih cerdik muncul di film ini. James Gunn adalah Willy Wonka nya Gene Wilder, sinak manik di matanya membawa kita pada perjalanan rollercoaster yang aneh dan emosional dengan kejutan di setiap sudut.

Film ini mungkin adalah film tentang pertarungan supervillain, tetapi aslinya film ini adalah upaya James Gunn menarik para karakter level bawah di dunia DC bisa muncul di permukaan. Bahkan karakter yang teraneh dari teraneh aneh seperti Polka-dot Man dan Ratcather 2 terbukti memiliki kedalaman cerita yang tetap menarik untuk ditelusuri. Dan James Gunn berhasil meramunya menjadi film yang menyentuh, untuk villain DC level bawah.

James Gunn sebelumnya telah menyatakan kecintaannya pada komik Suicide Squad klasik rilisan 1987 yang dibuat oleh John Ostrander walau filmnya ini tidak secara langsung mengadaptasi seri komik itu, namun ia dengan bangga menyatakan kalau film ini banyak mengambil referensi darinya. Tonenya begitu berat dan menegangkan, dimana kembalinya Viola Davis sebagai Amanda Waller memberikan nuansa alami dengan lika-liku penuh risiko tinggi, pengkhianatan dan penipuan. Elemen-elemen itu dengan murah hati dilapisi dengan selera humor James Gunn yang kasar, agresif, dan benar-benar liar, yang juga ditawarkan kepada para pemain yang spektakuler.

Idris Elba dan John Cena lucu sebagai pembunuh yang saling bersaing, yakni Bloodsport dan Peacemaker, utamanya dalam bagaimana mereka bersaing untuk saling membunuh musuh dengan cara yang paling unik. Sylverster Stallone hadir sebagai hiu mutan bernama Nanaue, memberikan pertunjukkan yang lebih konyol dan menawan daripada yang seharusnya. Rick Flag nya Joel Kinnaman untungnya terhindar dari garis-garis cheesy yang dipaksakan padanya pada Suicide Squad 2016, dan membuat karakternya menjadi layak untuk didukung. Dinamikanya dengan Harley Queen nya Margot Robbie merupakan wujud persahabatan langka yang didasarkan pada rasa saling menghormati, menjadi sorotan film ini. Dan berbicara tentang Harley Quinn, film ini merupakan penampilan terbaik Margot Robbie sebagai Harley. James Gunn membuat Harley Queen menjadi lebih gila, dan membuat Suicide Squad akan terasa berbeda bila tanpanya.

Jika ada titik lemah dari film ini yang bisa gua bilang, itu terletak pada karakter antagonisnya. Secara khusus, Thinker nya Peter Capaldi terasa kurang dimanfaatkan. Tapi yah film ini tidak terlalu tampil buruk meski dengan kelemahan itu, karena pada dasarnya film ini adalah tentang supervillain yang dipaksa menyelamatkan bumi agar kepalanya tidak meledak.


Rabu, 21 Juli 2021

Ulasan The Tomorrow War - Chris Pratt Menjelajah Ke Masa Depan

Kita sudah tahu Ketika Chris Pratt yang secara komedi tampil menawan dan melambungkan namanya di Guardian of the Galaxy maka hanya masalah waktu hingga ia akan menjadi pemeran utama dalam film aksi lainnya. Dan melalui film ini, hal itu benar-benar terwujud.

Selama pertandingan Piala Dunia 2022 disiarkan di televisi, tentara penjelajah waktu yang datang dari tahun 2051 muncul di tengah-tengah pertandingan dengan pesan untuk orang-orang 2022 bahwa 30 tahun dari sekarang umat manusia akan kalah dari perang global melawan spesies asing yang menakutkan, kecuali orang-orang 2022 bergabung untuk membantu anak cucu mereka di 2051 melawan para spesies alien ini. Karena hal itu, Dan Forester yang diperankan Chris Pratt, seorang guru sains Sekolah Menengah dan Ayah dari Muri (Ryan Kiera Armstrong) dan Suami dari Emmy (Betty Gilpin) terpaksa pergi dan meninggalkan keluarganya menuju ke masa depan.

Dan dengan wajib militer lainnya yakni Charlie, Dorian, Norah, dan Cowan dikirim ke Miami Beach pasca-apokaliptik dalam misi pencarian dan penyelamatan untuk memerangi “White Spikes”. Namun, dengan bantuan seorang ilmuwan militer brilian dengan code name Romeo Command, Dan bersama rekan-rekannya melanjutkan perjalanan sampai akhir untuk menyelamatkan umat manusia, meninggalkan penonton bertanya-tanya, siapa yang akan bertahan?

Pertama, gua perhatikan ada banyak tentara dengan beragam warna kulit ikut serta dalam perang ini yang kemudian membuat gua seneng bahwa film ini tidak diskriminatif dalam hal suku. Terima kasih banyak untuk Chris McKay telah menyajikan film yang begitu megah dan menawan dengan efek visual yang kece abis dari James E. Price yang memberikan sensasi riuh dan gelamor bagi para penonton.

Chris Pratt begitu gemilang dalam perannya kali ini, bisa dibilang kehadirannya lah yang menjadi faktor film ini gua lirik karena kepekaannya yang tajam dalam bermain peran ngebuat gua suka dengan penokohannya Chris Pratt. Yvonne Strahovski juga sama seperti Pratt, ia adalah bintang yang dapat berperan dalam genre film apapun. Gua suka totalitasnya!

Pada akhirnya the Tomorrow War adalah film tentang sekelompok kecil orang yang berjuang untuk bertahan hidup agar generasi dari keluarganya mereka dapat melanjutkan hidup di masa depan. Apakah ada momen yang memorable di film ini? tentu saja, setiap film action pasti memilikinya. Tapi saat kamera sudah mengarahkan pada senjata dan suara tembakan. Actionnya begitu menghibur sehingga para pecandu aksi pasti akan merasa lebih puas dengan film ini.

Rabu, 14 Juli 2021

Ulasan Mortal Kombat – Adaptasi Video Game Yang Kurang Memukul

Keinginan untuk menonton film ini datang dari ekspektasi dan kegemaran gua main versi gamenya. Namun ekpektasi itu juga dibarengi dengan pengalaman nonton versi lawasnya yang begitu buruk, bahkan adaptasi terbaik Mortal Kombat pun hanya dilabeli lumayan bagi kritikus film global seakan menjelaskan kalau memainkan karakter Mortal Kombat lebih baik daripada menonton mereka. 

Meski ekpektasi yang bertumpuk, tapi Mortal Kombat juga tiba di waktu yang tepat, karena dengan dibukanya kembali bioskop maka penonton yang sudah mendambakan fatality-fatality dengan darah dimana-mana itu bisa lebih terpuaskan dengan layar yang lebih lebar. Warners dengan cermat menempatkan tanggal rilis Mortal Kombat sebulan setelah Godzilla vs Kong dan juga mendistribusikannya di HBO Max di waktu bersamaan dengan rilisnya di bioskop.

Meskipun tidak memiliki heforia sebesar Godzilla vs Kong yang banyak menyenangkan orang, Mortal Kombat sejatinya memberikan fan service yang cukup untuk sejumlah pihak. Filmnya bermain konyol dalam penceritaan tapi tidak main-main dari segi perkelahian, McQuoid dengan penuh belas kasih menghindari pengambilan gambar yang tidak diperlukan yang berujung hal-hal monoton dan tidak perlu. Berimbas, plot ceritanya yang berantakan dan tidak penting untuk diikuti, dan lebih memfokuskan diri pada pertarungan Cole Young yang diperankan oleh Lewis Tan sebagai petarung MMA yang menemukan bahwa ia memiliki darah pejuang Mortal Kombat dari sisi Earthrealm yakni Scorpion. Dia pun direkrut untuk ambil bagian dalam turnamen yang mempertemukan mereka yang memiliki tanda lahir naga untuk bertarung dalam Mortal Kombat.

Kita disajikan jargon-jargon terkenal Mortal Kombat yang sebenarnya keren tapi entah rasanya kikuk buat didengerin, kadang-kadang tidak koheren dan berujung tidak penting. Dengan dasar bahwa ini adalah film pertempuran antara yang baik melawan yang jahat dan dengan segala nilai jual utama film ini dan rating R yang melekat padanya membuat McQuoid berusaha sekeras mungkin untuk mendorong Mortal Kombat hingga batasnya. Hasilnya, sebagai film fighting, pertarungan yang disajikan memang tidak semegah The Raid tapi masih bisa menghibur di beberapa sisi. Seperti pertarungan antara Scorpion melawan Sub Zero yang menjadi basis utama film ini. bagi mereka yang baru mengenal dunia Mortal Kombat, film ini sebenarnya tidak gua rekomendasikan buat memulai, karena banyak adegan yang terkesan berantakan dimana banyak karakter yang menceritakan tentang banyak hal pada suatu waktu tapi perhatian padanya terlalu rendah, dan berujung tidak ada gunanya.

Kehadiran Joe Taslim pada film ini juga mungkin membuat orang-orang utamanya dari tanah air ingin melihat film ini. Tidak bisa dipungkiri, keterlibatan Joe Taslim di Mortal Kombat membuat orang-orang yang sebelumnya tidak begitu ingin menonton Mortal Kombat jadi ingin nonton. Ya walau akhirnya aktingnya tidak begitu diperlihatkan karena karakternya yang terus-terusan mengenakan masker. Mortal Kombat tentu memiliki sejumlah kekurangan, seperti selera humor yang rendah, skrip yang kurang koheren, editing film yang tidak megah, dan musik techno yang kurang nendang. Selain daripada itu, rasanya minum tuak lebih memacu adrenalin daripada nonton film ini.

Review Film Thunder Force (2021) - Bahan Sudah Pas Hanya Resepnya Yang Salah

Kilatan petir selalu datang terlebih dahulu, lalu diikuti beberapa detik kemudian, gemuruh yang tidak mengenakkan tuk didengar. Mungkin itu kata yang tepat untuk memetaforakan film Thunder Force, film superhero bergenre comedy yang tidak pernah benar-benar mencapai potensinya.

Semua bahan-bahannya sudah tepat, setidaknya di departemen komedi. Penulis dan sutradara di pegang oleh Ben Falcone, suami dari Melissa McCarthy, yang adalah bintang utama film ini. dia berpasangan dengan Octavia Spencer, yang lebih dikenal karena peran dramatisnya tetapi berhasil membebaskan dirinya sendiri di film ini. chemistry keduanya tidak diragukan lagi karena terbantu fakta bahwa mereka juga berteman baik di belakang layar.

Premisnya hadir dengan penjelasan bahwa pada tahun 1980 an badai sinar kosmik membuat sejumlah orang memiliki kekuatan super, namun orang-orang berkekuatan super itu memilih menggunakan kekuatan supernya untuk berbuat kejahatan yang kemudian berimbas pada kematian orang tua Emily. Emily lalu mengabdikan hidupnya untuk penelitian genetik dengan harapan menciptakan manusia yang sama kuatnya untuk berjuang di sisi kebaikan.

Dorongan itulah yang menuntunnya mendirikan perusahaan riset yang berdiri dengan kuat, sementara teman masa kecilnya yakni Lydia yang tidak pintar-pintar banget bekerja sebagai sopir foklift. Untuk mendefinisikan dirinya, Lydia adalah wanita 32 tahun yang suka minum bir dan musik rock klasik.

Yang mencuri perhatian gua pada film ini justru kehadiran Jason Batemen dengan peran konyolnya sebagai manusia bertangan kepiting.

Emily dan Lydia sudah lama tidak saling berkomunikasi, hingga reuni sekolah mempertemukan mereka di Chicago. Sayangnya, Lydia melakukan hal bodoh saat nongkrong di labnya Emily dan membuat dirinya tersuntik serum penambah kekuatan, jadi dia kini punya kekuatan super kayak Superman hanya tanpa tiupan es dan mata laser saja. Karena sudah terlanjur Lydia yang menjadi objek tes nya, akhirnya Emily melanjutkan eksperimen dengan Lydia, sementara Emily sendiri memiliki kekuatan super yakni invisible atau tidak terlihat.

Ada beberapa humor ringan selama filmnya berjalan yang mungkin bisa membuat kalian sedikit tersenyum karenanya. Seperti joke betapa sulitnya membersihkan pakaian super hingga mobil mereka untuk beraksi yang rupanya terlalu kecil untuk ukuran mereka.

Dari karakter pendukungnya sendiri hadir dengan beberapa opsi pilihan termasuk hadirnya Bobby Cannavale yang berperan sebagai calon walikota Chicago dengan impian besar namun memiliki maksud tersendiri di baliknya. Dan juga orang yang membuat gua nonton film ini yakni Jason Batemen yang sekali lagi gua sebut dia berperan sebagai manusia bertangan kepiting. Di saat para villain film ini menyatakan dengan lantang kalau dirinya adalah seorang penjahat, si Jason lebih memilih mengkategorikan dirinya sebagai setengah jahat setengah baik, sama seperti peran yang diambilnya.

Perannya menurut gua cukup melengkapi film ini secara harfiah, tapi ya tetap saja Thunder Force hanya pilihan tontonan ketika tidak ada lagi film yang tidak bisa kalian tonton saat Jum’at malam. Memang film yang menyenangkan bagi para penggemar McCarthy, tapi gua kayaknya orang yang lantang bilang film ini sudah ngambil waktu 2 jam gua yang bisa gua pakai ke hal yang lebih berfaedah.